Tapi Saya Sedang Ingin Bercerita Tentang Undak Usuk Bahasa Sunda
Entahlah, tapi saya sedang ingin bercerita tentang unduk-usuk bahasa Sunda (UUBS). Saya memang tidak tahu dan tidak mau tahu tentang nasib UUBS dalam perbincangan resmi. Apa ia masih dianggap eksistensinya? Saya sengaja menapikan ini, meski saya bisa menebak kalau pertemuan semacam Kongres Bahasa Sunda, dan atau Konferensi Internasional Bahasa Sunda, dan atau seminar-seminar bahasa Sunda, dan atau perkuliahan bahasa Sunda, sempat menyungging-nyinggungnya.
Entahlah, tapi saya sedang ingin bercerita tentang UUBS. Sebatas yang saya tahu, UUBS masih sering diperbincangkan orang. Sebatas yang saya tahu, UUBS merupakan pengaruh dari struktur bahasa lain. Sebatas yang saya tahu, UUBS masih ada dan digunakan dalam sebagian besar masyarakat penuturnya. Sebatas yang saya tahu, UUBS acap dijadikan sebagian orang sebagai tembleuhan atas kemandegan perkembangan bahasa Sunda. Dan, sebatas yang saya tahu, ada mereka yang tidak mengenali atau bahkan tidak mau tahu-menahu urusan UUBS sama sekali.
Entahlah, tapi saya sedang ingin bercerita tentang UUBS. Saya masih ingat, kalau dahulu kala, setelah jaman cacing dua saduit, setelah jaman tai kotok dilebuan, saya sering dikritik oleh orang tua maupun guru atas kekurangtepatan saya menggunakan UUBS. Mungkin bahasanya bukan “dikritik”, tapi “dikoreksi”. Lha, apa bedanya, ya? Entahlah! Kalau ketika berbicara saya mengucap suatu kata Sunda dengan tidak tepat, langsung saja orang yang mendengar kata-kata saya itu menyela atau menyusulnya dengan sebuah kata yang seharusnya saya gunakan.
“Bu, badé nyandak kapur,” saya ucapkan itu waktu masuk ruang Tata Usaha sekolah. “Ngabantun,” susul ibu TU dengan tiba-tiba disertai penekanan dan diucapkan dengan anca. Saya kontan mengerti, bahwa yang dimaksud ibu itu, saya tidak tepat menggunakan kata “nyandak”. Kata “ngabantun”-lah yang seharusnya saya pakai. Saya mengerti benar itu. Karena saya sudah tahu bahwa kata “nyandak” dengan “ngabantun” memang bermakna sama dan saya hanya kurang mengerti dalam hal pemakaiannya yang berbeda itu saja. Tapi dengan “pembetulan” ibu itu, saya lantas menjadi paham bahwa kata “nyandak” merupakan basa lemes keur ka batur, sedangkan “ngabantun” basa lemes keur ka sorangan.
Inilah pelajaran dua tingkatan bahasa dalam UUBS yang paling sering saya terima: bahasa halus untuk orang lain (atau bahasa halus biasa) yang fungsinya digunakan untuk berbicara dengan orang lain yang usia, kedudukan, dan atau ilmunya lebih tinggi, termasuk juga digunakan bagi karib kerabat yang usianya lebih muda tetapi memiliki hubungan kekeluargaan lebih tinggi; (Ngerti kan? Iya, misalnya, sok sanajan umurna sahandapeun, tapi manéhna téh budak ua. Jadi lamun ngobrol jeung manéhna kudu maké basa lemes! Kitu. Karuhan ari jeung Pa Camat mah, pan puguh éta mah darajatna gé leuwih luhur tinimbang urang nu ukur tukang… teuing mun lalajo wayang.); dan bahasa halus untuk diri sendiri (atau bahasa sedang membahasakan diri sendiri) yang fungsinya digunakan untuk berbicara dengan orang lain perihal diri sendiri. Ari simkuring mah “ningal” tapi Pa Camat mah “ningali”. (Saya merencanakan untuk mendaftarkan kosakata termaksud dalam tulisan saya mendatang.)
Entahlah, tapi saya sedang ingin bercerita tentang UUBS. Setiap hal semacam di atas saya alami, saya tidak pernah marah, sakit hati, atau malah balik anti terhadap bahasa Sunda. Tidak! Paling-paling saya hanya kaéraan dan bébéléhéman saja. Tahu kan bébéléhéman? Iya. Itu. Asal katanya dari “béléhém”. (Padahal kalau di tempat sayah mah “béléhém” itu paranti ngalelepkeun, lamun arék tandur). Kalau pakai rarangkén hareup “nga” jadi ngabéléhém. Kenapa saya bébéléhéman? Merasa malu karena telah menggunakan kata yang tidak tepat. Tapi perasaan ini jarang sekali muncul, yang ada malah saya merasa telah mendapatkan pelajaran berharga. Yaitu, saya menjadi tahu akan letak penggunaan suatu kosakata Sunda. Lagi-lagi, syaking sudah seringnya dibetulkan dengan cara itu, lama-lama saya anggap sebagai sesuatu yang ilahar saja. Itu hal biasa dalam sosiologi Bahasa Sunda. Kalau sudah ilahar? Ya, jadinya bukan merupakan sebuah beban. Sudah biasa gitchu loh!
Entahlah, tapi saya sedang ingin bercerita tentang UUBS. Seiring perkembangan berbahasa Sunda saya, pembetulan-pembetulan yang saya terima intensitasnya menjadi berkurang. Ya, karena setiap koreksi selalu saya jadikan pelajaran. Lalu, kalaupun saya merasa malu dengan koreksi yang dibuat orang, maka saya akan menanyakan penggunaan kata-kata Sunda lainnya pada orang tua sendiri, biar saat berbicara dengan orang lain saya tidak salah penggunaan lagi. Bagaimana dengan kata “mulih” dan “wangsul”? Bagaimana dengan kata “hoyong” dan “palay”? Bagaimana dengan kata “gaduh” dan “kagungan”? Bagaimana dengan kata “terang” dan “uninga”? Begitulah selanjutnya. Hingga lama-kelamaan saya tidak mendengar lagi orang mengkritik penggunaan kosakata Sunda saya. Kenapa ya? Mereka sudah bosan kale! Wkwkwkwkwkwk! Percuma!
Entahlah, tapi saya sedang ingin bercerita tentang UUBS. Pengalaman saya seperti di atas, saya yakin dialami juga olah Anda yang saentragan dengan saya, atau oleh Anda yang di atas entragan saya. Saya yakin itu. Coba sekarang saya tanya, bagaimana perasaan Anda ketika hal itu terjadi? Atau, pernahkah hal itu menjadi beban psikologis bagi Anda dan lalu mendorong Anda untuk balik tidak menyukai bahasa Sunda dan atau menentang adanya UUBS?
Entahlah, tapi saya sedang ingin bercerita tentang UUBS. Pada kenyataannya, saya masih sering mendapati hal semacam itu di masyarakat sekeliling saya. Masih sering saya dengar para orang tua yang “mengoreksi” penggunaan kata-kata Sunda yang diucapkan anak-anaknya. Di sekolah, saya selalu mendapati guru-guru tua, bukan hanya guru bahasa Sunda, melakukan hal yang sama kepada para siswanya. Guru-guru muda biasanya mencermatinya dengan seksama. Ow, ow, ow, ternyata generasi sekarang pun turut mengalaminya! Dan, saya cermati, perasaan mereka pun nampaknya sama layaknya saya dibetulkan waktu dahulu. Ini hanya kayaknya loh!
Entahlah, tapi saya sedang ingin bercerita tentang UUBS. Dari itu semua, saya lalu membuat kesimpulan bahwa UUBS memang masih dianggap keberadaannya alias digunakan oleh sebagian besar penutur bahasa Sunda. Kesimpulan yang terlalu dini, ya? Tapi Anda boleh melakukan penelitian di kota Bandung atau kota-kota besar lainnya di Jawa Barat dan Banten, lalu Anda temukan bahwa masyarakatnya sudah tidak maliré terhadap UUBS atau malah tidak menggunakan bahasa Sunda sama sekali. Anda lalu boleh juga mendapat temuan bahwa generasi muda di kota-kota itu mulai meninggalkan bahasa Sunda karena mereka merasa tak mampu untuk menanggung beban malu lantaran (takut) salah mempraktikkan UUBS.
Entahlah, tapi saya sedang ingin bercerita tentang UUBS. Saya tidak tahu, apakah ini bukti syaking nyaah-nya generasi muda terhadap bahasa Sunda, sehingga lebih baik tidak menggunakannya sama sekali ketimbang harus melakukan kesalahan atasnya? Saya tidak tahu. Saya juga tidak tahu, apakah mereka mengerti akan asal-usul kelahiran UUBS itu sendiri? Saya tidak tahu! Tapi Anda lalu katakan, bahwa gara-gara ada UUBS-lah bahasa Sunda mulai ditinggalkan oleh generasi muda. Ya, ya, ya, itu adalah temuan Anda.
Entahlah, tapi saya sedang ingin bercerita tentang UUBS. Anda boleh menjadikan kota Bandung dan kota-kota besar lainnya sebagai indikator utama temuan Anda. Tapi marilah perhatikan juga wewengkon-wewengkon tatar Sunda lainnya yang lebih luas. Kunjungilah tatar Priangan Timur; Garut, Tasikmalaya, Sumedang, Kuningan, Ciamis, dll., lalu lihatlah bagaimana para penutur bahasa Sunda di wilayah-wilayah perdesaannya. Apakah mereka meninggalkan bahasa Sunda gara-gara UUBS? Saya hanya menyebut wewengkon-wewengkon itu saja karena saya memang hanya tahu apa yang terjadi di sana. Walau begitu, saya masih berani memastikan bahwa di wilayah-wilayah seperti Bandung, Cianjur, Purwakarta, Subang, Sukabumi, dll. pun tak akan jauh berbeda.
Entahlah, tapi saya sedang ingin bercerita tentang UUBS. Saya sering mendengar biantara-biantara, menghadiri riungan-riungan resmi maupun tidak resmi, yang saya dapati di tempat itu orang-orang bercakap dalam bahasa Sunda dengan masih pengkuh pada ugeran UUBS. Saya sering mendapati SMS, menerima telefon dari orang Sunda yang ternyata mereka juga menggunakan UUBS. Saya sekali-kali mendengarkan siaran radio berbahasa Sunda dari pelbagai statsiun radio, setiap perbincangan antara penyiar dan pendengarnya melalui telefon, saya perhatikan mereka masih pengkuh terhadap UUBS. Acap juga saya dengar, sang penyiar mengoreksi penggunaan kosakata Sunda yang diucapkan pemirsa pendengarnya. Saya juga sering ngobrol (chatting) di dunia maya, memperhatikan penuturan bahasa Sunda dari para chatter yang ternyata mereka juga, yang notabene kebanyakan kaum muda bahkan anak belia, menggunakan UUBS.
Cobalah, misalnya, masuk room Bandung, Garut, Tasikmalaya, Sumedang, Ciamis, Subang, Cianjur, Sukabumi, Purwakarta, dll. di Mig33, salah satu tempat ngerumpi di telefon genggam. Anda perhatikan, bagaimana tulisan-tulisan kaum muda dalam bahasa Sunda di tempat itu. Ternyata mereka masih pengkuh terhadap UUBS. Saya katakan pengkuh, karena tulisan-tulisan mereka memang konsisten. Ketika menulis kata-kata kasar, semuanya kasar; saat menulis kata-kata halus, semuanya halus. Tidak pernah bercampur aduk. Hal serupa juga ditemukan dalam komentar-komentar bahasa Sunda pada blog-blog di internet. Komentator itu nyatanya menggunakan bahasa yang konsisten.
Entahlah, tapi saya sedang ingin bercerita tentang UUBS. Salutnya, mereka masih mau menggunakan bahasa Sunda bahkan ketika harus ngerumpi di ruangan (room chat) luar Sunda atau menulis komentar di blog yang tulisannya bukan berbahasa Sunda sekalipun. Kesalahannya paling-paling hanya dalam menulis saja, terutama dalam membedakan “e”, “é”, dan “eu”. Mungkin kita bisa memaklumi, lantaran chatters dan commentators pada kebanyakannya belum terbiasa menulis, melainkan mereka lebih sering berbicara. Lagian kalau cet itu tulisannya disingkat-singkat ya? Nah ini, pendidikan bahasa Sunda di sekolah formal nampaknya harus lebih berfokus pada keterampilan menulis, karena dalam hal berbicara umumnya mereka sudah menerimanya dari lingkungan keluarga. Tapi gak tahu kalau di kota mah kétang!?
Entahlah, tapi saya sedang ingin bercerita tentang UUBS. Kalau toh ternyata ada yang mengatakan bahwa generasi muda sekarang meninggalkan bahasa Sunda gara-gara mereka takut salah menerapkan UUBS, itu memang mungkin. Ya baru mungkin. Karena saya sendiri belum mendapatkan kesimpulan semacam itu sebagai buah penelitian yang mendalam, cermat, sahih, dan terakreditasi. Tapi, berdasarkan pengamatan teman saya yang hobi cuplas-ceplos, katanya bukan itu alasannya, melainkan karena imperialisme bahasa secara fisik. Walau saya tidak mengerti maksud “imperialisme bahasa secara fisik”, saya pura-pura unggut-unggutan saja. Dia lalu ceramah di depan saya (bukan di mimbar, melainkan di atas meja):
Begini, bahasa Sunda itu kan dijajah. Anak-anak muda tidak lagi mendapatkan pelajaran bahasa Sunda dari lingkungan keluarganya. Di sekolah, mereka mendapatkan pelajaran bahasa Sunda hanya beberapa menit saja. Di jalanan, mereka hanya menemukan papan-papan tulisan dan omongan-omongan orang bukan dalam bahasa Sunda. Di perpustakaan, mereka hanya bisa membaca majalah dan buku-buku yang bukan berbahasa Sunda. Di tempat perisitirahatan, mereka hanya menyaksikan dan mendengar siaran-siaran yang bukan dalam bahasa Sunda…
Hey, mereka cuman tahu UUBS itu dari pelajaran sekolah yang hanya beberapa menit itu saja. Bagaimana mungkin mereka bisa menerapkannya, lha wong pake bahasa Sunda-nya itu sendiri gak pernah koq! Jadi, UUBS dibilang penghalang itu hanya akal-akalan saja. Yang sebenarnya mereka memang tidak bisa berbahasa Sunda! Tapi ingat loh, ini hanya terjadi di kota-kota besar saja. Hanya di kota-kota tertentu. Lagian, di kota itu kan tempat berkumpulnya manusia dari berbagai etnis. Wajar dong!
Hey hey hey, dari dulu orang Sunda itu mudah terasuki pengaruh luar; mudah dijajah! Coba deh perhatiin, ini masih berhubungan dengan bahasa, orang Sunda kan punya huruf sendiri seperti yang terdapat pada prasasti-prasasti itu, tapi mengapa yang dulu diajarkan di sekolah malah hurufnya orang Jawa? Hey, bahasa Sunda itu kan tidak mengenal UUBS, tapi mengapa sejak dulu UUBS itu diajarkan dalam mata pelajaran bahasa Sunda di sekolah? Tuh, tuh, tuh, UUBS itu sendiri…. Wah, jadi pabaliut beginoh….
Yah, pokoknya bahasa Sunda memang sedang dijajah. Dan, orang Sunda yang di kota itu sekarang sedang tidak tahan sama penjajahan. Coba deh liat toko-toko, restoran-restoran, tempat-tempat wisata, mereka kan lebih banyak dilabelin pake bahasa asing, bukannya pake bahasa Sunda… Ngerti sech, itu mah kan strategi pemasaran ea..! Kayak tulisanmu ini, strategi pemasaran, kan? Pake bahasa nasional tapi tidak baik dan benar walau halal! Wkwkwkwkwkwk…!!! Awas, kena undang-undang IT…
Stop! Entahlah, tapi saya sedang ingin bercerita tentang UUBS. Yah, boleh jadi benar kata-kata komentator ini. Tapi saya malah tersenyum saat mendengar UUBS sebagai pengaruh bahasa lain. Saya juga tersenyum saat menyadari saya sedang menulis ini bukan dalam bahasa Sunda. Saya juga tersenyum, padahal blog saya menggunakan pengantar bahasa Sunda. Hmm… itulah memang kenyataannya. Lantas, masih haruskah UUBS dipertahankan? Entahlah, tapi saya sedang ingin bercerita tentang UUBS.
Bersambung…
Categorised as: Sabulangbéntor
Entahlah, tapi saya pun ikut bingung,
lieurrr
Entahlah, harus komen apa