Maka Saya Lanjutkan Cerita Tentang Undak Usuk Bahasa Sunda
Maka saya lanjutkan cerita tentang undak-usuk bahasa Sunda (UUBS). Namun sebelumnya saya mohon maaf, jika saya harus flash back dulu menelusuri sirah maulid UUBS itu sendiri. Rasanya ini penting untuk diketahui oleh orang yang belum mengetahui. Terlepas, apakah orang yang belum mengetahuinya itu merasa berkepentingan untuk mengetahui atau tidak. Lieur teu?
Menurut (jumhur) ulama bahasa Sunda [Anda berhak untuk mengganti dan atau menghilangkan kata di dalam kurung berikut tanda kurung buka dan kurung tutupnya!], UUBS itu merupakan pengaruh bahasa Jawa. Ya, saya sih sami’na wa atha’na saja. Lha wong saya cuma santri kok. Mosok gak dengerin kata-kata Kiayi. Guru, ratu, wongatua karo! Lha, guru itu kan kudu digugu lan ditiru!
“Yang bagaimana dulu!? Lo mo taqlid buta ya? Lagian, lo ngerti apa peribahasa Jawa…!?”
“Sabar, Mas, jangan su’udhan dulu! Positive thinking kan lebih asyik! Fas’alu ahla al-dzikr inkuntum la ta’lamun!” Beliau itu ahlinya loh! Sedang aku, cuman pelajar.
“Lah, gak nyambung banget. Itu ayat konteksnya kan pengetahuan tentang rasul, dudul! Apa hubungannya dengan tingkatan bahasa? Dasar orang gila!”
“Itu mah Mas aja yang bilang ‘gak nyambung banget’. Lagian, al-‘Ulama warasat al-anbiya, kan?”
[“Udah, udah! Gitu aja kok repot!”]
“Maaf!”
Ya, dahulunya, hingga pada awal abad ke-17, bahasa Sunda itu tidak mengenal undak-susuk. Runtuhnya Kerajaan Sunda (1579/1580), dijajahnya Kerajaan Galuh (1595) serta Kerajaan Sumedanglarang (1620) oleh Mataram-lah yang kemudian menjadi jalan akan lahirnya UUBS. Anda tentu tahu Mataram. Ya, ialah Jawa. Mataramlah yang kemudian dapat menguasai wilayah-wilayah yang sekarang dikenal dengan Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Bandung, Sukabumi dan Cianjur.
Pada masa itu, timbul kontak budaya yang begitu dekat antara Sunda dan Jawa. Tidak sedikit kebudayaan Jawa yang masuk (atau bahkan dimasuk-masukkan oleh golongan tertentu dari orang Sunda sendiri) ke dalam budaya Sunda, termasuk dalam hal aksara, bahasa, berikut undak-usuknya, tentunya. Ya, bahasa Jawa-lah yang terlebih dahulu mengenal undak-usuk [setahu saya, sekarang sudah dihilangkan lewat salah satu kongresnya]. Itu terpengaruhi oleh kebudayaan Hindu yang membagi golongan sosial masyakat ke dalam beberapa kasta. Kasta Brahma, Satria, Waisya, Paria dan Sudra, memang masing-masingnya memiliki bangunan bahasanya sendiri-sendiri.
Yang menjadi bukti bahwa UUBS itu berasal dari bahasa Jawa, misalnya, ditemukan berdasarkan hasil penelitian salah seorang ahli Belanda, Sierk Coolsma. Ia sempat mengadakan penelitian, berbentuk kamus, dengan cara membuat perbandingan 400 kosakata halus dan 400 kosakata kasar antara bahasa Sunda dengan Jawa. Hasilnya, 300 kosakata halus dan 275 kosakata kasar dalam bahasa Sunda berasal dari bahasa Jawa. Tapi dalam hal pemakaiannya acapkali mereka bersebelahan.
Misalnya saja, baik orang Sunda maupun Jawa tentu mengenal kata-kata semacam “abot”, “impén”, “anom”, “bobot”, “lali”, “pungkur”, “sasih”, “tunggang”, dsb. Nah, kata-kata itu, kalau di dalam bahasa Sunda termasuk kosakata halus, sedangkan dalam bahasa Jawa termasuk kasar. Sebaliknya, kata-kata semisal “béja”, “bulan”, “datang”, “pindah”, “suku”, “tumpak”, dll. Yang dalam bahasa Sunda tergolong kasar, dalam bahasa Jawa malah halus.
Bukti lainnya, jika Anda sempat membaca naskah-naskah Sunda kuna yang ditulis sebelum abad ke-17, Anda akan menemukannya di sana. Dalam naskah-naskah itu nampak bahwa sebelum adanya pengaruh Mataram, bahasa Sunda itu tidak mengenal UUBS.
Sadatangna sang apatih ka Galunggung, carék Batara Dangiang Guru, “Na naha béja siya, sang apatih?”
“Pun kami dititah ku Rahyang Sanjaya ménta piparintaheun adi Rahyang Purbasora.”
Dialog di atas saya penggal dari penggalan orang atas penggalan naskah Carita Parahyangan yang ditulis pada abad ke-16. Jika dicermati, kata “carék” itu menurut ukuran UUBS sekarang termasuk bahasa kasar. Jika pada masa itu UUBS sudah ada, apa mungkin seorang penulis naskah menggunakan kata itu saat membicarakan Batara? Lalu, kata-kata “dititah”, “ménta”, dan “piparéntaheun”, menurut ukuran UUBS sekarang termasuk kata-kata kasar. Apa mungkin seorang Patih menggunakan kata-kata itu kepada Batara, jika memang UUBS itu sudah ada?
Hmm… lantas siapa yang memulai menggunakan atau mengajarkan UUBS itu? Merekalah para bupati dan ménak Sunda. Mengapa? Sebab pada masa kekuasaan Mataram, setiap tahunnya mereka wajib séba. Di samping itu, banyak ménak-ménak Sunda yang berhaji di Mataram untuk menerima perintah raja sambil mesantren dan belajar kabudayan Jawa, termasuk kabiasaan dalam hal menggunakan bahasa, tentunya.
Lebih jauh lagi, muncullah sebuah pandangan di kalangan para ménak Sunda yang menganggap bahwa bahasa Sunda itu merupakan bahasa kampungan, bahasa somah, bahasa cacah kuricakan, bahasa rakyat jelata; sungguh tidak pantas untuk dipergunakan di kalangan mereka. Ketika meraka melakukan surat-menyurat, misalnya, mereka senantiasa melakukannya dengan bahasa Jawa. Bahkan, jika menerima surat berbahasa Sunda, mereka menganggapnya sebagai sebuah penghinaan. Sebaliknya, bahasa Jawa adalah bahasa ningrat, bahasa keraton, bahasa yang sepatutnya mereka gunakan untuk memperkokoh kedudukannya.
Para ménak itu sungguh kataji dengan undak-usuk yang terdapat dalam bahasa Jawa. Mereka kesengsrem dengan tatakrama bahasanya. Maka ketika mereka terpaksa harus menggunakan bahasa Sunda, mereka mengadopsi undak-usuk yang terdapat dalam bahasa Jawa itu. Menyebarkan dan mengajarkan serta menerapkannya ke dalam bahasa Sunda. Bahasa halus yang fungsinya untuk menghormati para ménak, pada masa itu sangat digembor-gemborkan!
“Hey, gue ini ménak. Lo jangan ngomong sembarangan sama gue! Lo kudu punya tatakrama! Mulai sekarang, ngomong sama gue harus dibedain dengan ngomong sama binatang! Ngerti?”
Dari sinilah rasanya awal munculnya jurang pemisah dan pengkotak-kotakan golongan pada masyarakat Sunda. Kok, saya malah merasa bahwa sebelum itu, tidak nampak pembedaan status sosial yang dicerminkan dengan cara berbahasa.Ya, sebab itu tadi. Awalnya kan bahasa Sunda tidak mengenal undak-usuk atau tingkatan-tingkatan itu. Ia adalah bahasa yang egaliter dan demokratis. Mau ngomong sama ménak ke, mau sama cacah ke, kalau pake bahasa Sunda, ya udah bahasa Sunda aza! Ngapain dibeda-bedain! Harus halus lah! Harus sedang lah! Lha, semua manusia itu kan sama. Inna akramakun ‘inda Allah-i atqakum. Cuman itu kan yang bedain!? Eh, bukannya cara berbahasa juga termasuk ciri-ciri orang bertaqwa!? Wkwkwkwk…, kacalétot euy. Ngahaja!
Begitulah, setibanya Belanda ke Tatar Sunda, jurang pemisah derajat sosial itu bukannya hilang. Ia malah kian menganga. Tuh “gara-gara” bahasa. (Maaf, membaca “gara-gara”-nya harus lirih. Sebab itu hanya dampak sistemik dari krisis.) Dan, ini terus berlangsung hingga munculnya revolusi nasional yang disudahi dengan proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Barulah pada Konferensi Bahasa Sunda 1953 di Bandung, fungsi bahasa halus yang asalnya digunakan khusus untuk berbicara kepada para menak menjadi digunakan kepada siapa saja yang layak dihormati, terutama kepada yang usia dan atau kedudukannya lebih tinggi.
Maka saya lanjutkan cerita tentang UUBS. Aha! UUBS itu berasal dari bahasa Jawa. Banyak juga kosakata Sunda yang berasal dari bahasa Jawa. Coba saja, tanpa membaca penelitian Coolsma pun, jika Anda kebetulan orang Jawa, lalu Anda mendengar percakapan atau membaca tulisan Sunda yang menggunakan bahasa halus, banyak kan yang Anda mengertii dari kata-katanya itu?
Maka tak heranlah kalau pada awal kedatangan Belanda ke Pulau Jawa, mereka menganggap bahasa Sunda itu sebagai salah satu dialek bahasa Jawa (bergjavaans, Jawa Gunung). Lalu dianggapnya sebagai varian dari bahasa Jawa. Orang Sundanya sendiri dianggap sebagai keturunan orang Jawa yang mendiami pegunungan. Hahahaha… memang enya, urang Sunda mah urang gunung. Gawéna gé ngahuma jeung nyawah! Sok geura, urang Jawa mah sakitu agréngna bisa nyieun Candi Borobudur. Urang Sunda mah paling banter gé nyieun ranggon atawa saung kebon anu hateupna maké daun eurih atawa jarami garing, bari jeung saungna téh réyod deuih! Wkwkwkwkwk…!
Kendatipun kemudian Thomas Stamford Raffles lewat bukuna The History of Java (1817), John Crawfurd dalam History of The Indian Archipelago (1820), atau kemudian Andreas de Wilde pada 1829 sudah memisahkan orang Sunda dari Jawa, tapi mereka tetap menganggap bahasa Sunda itu sebagai varian dari bahasa Jawa, yang oleh Crawfurd disebutnya sebagai minor language of the archipelago. Baru pada 1841-lah bahasa Sunda dianggap sebagai bahasa tersendiri dengan terbitnya Nederduitsch-Maleisch en Soendasch Woordenboek karya Taco Roorda.
Heueuh, bener tah anu nyebutkeun Sunda “dicipta” Belanda. Atau menurut saya “dibangunkan” Belanda. Itu pun jika Anda sepakat bahwa orang Sunda pernah tidak melek alias tertidur. Wkwkwkwkwk…!
Sampai di sini, saya jadi ingin tahu, bagaimana undak-usuk bahasa yang terdapat dalam bahasa Jawa (dahulu, sebelum dihapuskan) itu. Meskipun saya orang Jawa, sungguh sya tak tahu itu. Mungkin wajar, sebab Jawa-nya saya adalah Jawa Barat, bukan Jawa Tengah atau Jawa Timur. Bagi Anda, mungkin Ini tidak penting. Sama. Bagi saya juga tidak penting. Tapi, siapa tahu ada yang berkepentingan. Ah, dasar orang aneh!
Wkwkwkwkwk… [maksudna seuri bisi teu apal mah] jadi inget kana tatarucingan: “Beunghar mana urang Jawa jeung urang Sunda?” Cenah téh, “Sok wé bandingkeun ku sorangan, urang Jawa mah bogaeun pulo (pulo Jawa), ari urang Sunda mah ukur bogaeun selat (selat Sunda).”
Tapi nu jelas mah euy, urang téh apal pan dina palajaran geografi aya nu disebut “Sunda Islands” nyaéta island group of the Malay Archipelago between the South China Sea and the Indian Ocean. It consists of two groups, the Greater Sunda Islands, which include Sumatra, Java and Borneo (Kalimantan), and the Lesser Sunda Islands, which include Bali and Timor. Tuh, jelas pan, Jawa gé asup ka pulo Sunda. Jadi salah mun nyebutkeun Sunda aya di pulo Jawa. Wkwkwkwkwkwk….! Heueuh, samarukna aya meureun nu disebut “Jawa Kelapa”.
Ceuk ahli antropologi urang bulé mah, aya siah “Java man”, early human skeleton: a fossil human being found in Java and elsewhere in Indonesia, assumed to be from the Paleolithic Age. Aya teu “Sunda man”? Tah “Java man” téh cenah, “The body and limbs are very similar to those of Homo Sapiens, but the brain and skull are smaller.” Wkwkwkwkwk… majar téh, “uteuk jeung tangkorakna lemét”, Wkwkwkwkwk… Heureuy ah!
Tapi bener loh, “sunda” itu asalnya untuk menunjuk kepulauan nusantara. Nih dengerin: Kata sunda itu asalnya dari Arab. “sin”, “nun”, “dal” jadi “sanadun”. Coba lo tanya sama orang yang ngerti bahasa Arab. Apa itu “sanadun”? Ialah “tempat kembali yang kaya akan hasil bumi/pertanian”. Lho, kok dari bahasa Arab sih? Gak salah tuh? Lha emang. Yang ngasih namanya kan orang Arab. Itu tuh, sekitar masa berkuasanya Bani Umayah dan Abbasiyah lah. Tau kan? Lha, orang Islam itu jauh lebih dulu mengenal dunia. Kan mereka dapet petunjuk dari Alqur’an. Sedang yang mempopulerkannya itu para penjelajah kemudian, seperti bangsa Inggris dan Belanda.
Nah, kepulauan Nusantara itu kan banyak menghasilkan hasil pertanian. Ya, semacam rempah-rempah itu. Pokoknya kehijauan deh. Makanya ia disebut “sanadun”. Sebenarnya bukan kepulauan Nusantara saja sih. Banyak juga tempat-tempat lainnya yang disebut demikian. Mereka menyebutnya karena memang sangat jauh berbeda kalau dibandingkan dengan tanah Arab. Cuman, kata “sanadun” ini berbeda pelafalannya. Orang Belanda menyebutnya menjadi “sunda” (itulah Sunda Island). Inggris menyebutnya menjadi “shindu” (untuk India) dan “sudan” untuk yang di Afrika itu. Begitchu!
Lalu “Jawa”? Nah kalau Jawa itu dari kata “jawi”, artinya tinggi. Disebut demikian karena pulau itu lebih tinggi daripada pulau Sumatra. Begitchu!
Kagok ngacapruk aing mah lah! Kamendi wé sakainget.
Ya, ya, ya, yang jelas, setidak-tidaknya atau sekurang-kurangnya, [kurang sabara kilo tah?] pada detik ini saya merasa berkepentingingan untuk mengetahui undak-usuk bahasa Jawa dulu itu sebelum melanjutkan cerita tentang undak-usuk yang saya temui dalam bahasa ibu saya sendiri!
Nah, berhubung saat ini di samping saya tidak ada orang Jawa kowék [“jawa kowék dagang apu…” sok tuluykeun!], maka saya jedai dulu tulisan ini. Dan…
Bersambung…
Categorised as: Sabulangbéntor
bos iki aku arek suroboyo,postingan mu apik soro, iyo emboh ancene wong kerajaan sundo iku elek atine karo wong wetan, la awakmu asline wong endi sih tapi aku salut bmek jenengan…….ok bos, wilujeng pa tepang deui….he..he;)
Naon hartosna nya?
Simkuring mah urang kulon, pituin urang Jawa… Barat… “…wong kerajaan sundo iku elek atine karo wong wetan.” Uluh, nu leres ah! wkwkwkwkwk…
Kunjungan ngawitan Pa, hebatl pokonamah
SIga sinetron bersambung
heded lah seratana, 5 thumbs up!!!!!
2 jmpol leungeun 2 jmpol suku nu hiji deuina mah emutan w olangan
diantos pisan nu salajengna ah
janten panasaran
Eta, gera,, karek apal bahasa bisa dibulak-balik kitu nukasar jadi lemes, anu parahna orang sunda sorangan nu ngaruksakna…
, mana atuh lanjutanna, bade di teurasken moal..?
, diantos ah..
Aing teh urang Sidoarjo . . . Atanapi tinggal di Tangerang . .
Ah emank cape banget blajar basa Jawa mah, mesti kudu aya unggah-ungguhna . .
Beruntung aing mah urang Jawa Timur apalagi Sidoarjo
basa Jawana mah teu kenal undak usuk, kasar wae basa Arèk Sidoarjo
mantab jaya!